Internasional

IRGC Siap Serang AS Jika Kapal Iran Diserang

Serangan irgc kapal iran — IRGC memperingatkan akan serangan besar-besaran jika kapal Iran diserang. Ketegangan meningkat di Selat Hormuz.

IRGC siaga serang AS jika kapal Iran diserang

Korps Garda Revolusi Islam () Iran baru-baru ini mengeluarkan peringatan tegas bahwa setiap serangan terhadap tanker minyak atau kapal komersial milik Iran akan direspon dengan serangan besar-besaran terhadap posisi Amerika Serikat dan kapal-kapal musuh di kawasan tersebut. Peringatan ini disampaikan oleh komando Angkatan Laut IRGC, yang menyatakan, ‘Setiap agresi terhadap tanker minyak dan kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap pusat-pusat Amerika di wilayah tersebut dan kapal-kapal musuh,’ menurut laporan dari Kantor Berita Fars, yang dikutip oleh Anadolu pada Minggu (10/5).

Dalam pernyataannya, Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi, menegaskan bahwa rudal dan drone mereka telah ‘dikunci pada musuh’ dan siap untuk diluncurkan kapan saja. Ketegangan ini muncul di tengah meningkatnya aktivitas militer di kawasan, di mana Kementerian Pertahanan Inggris telah mengerahkan kapal perang Angkatan Laut Kerajaan ke Timur Tengah sebagai langkah persiapan untuk kemungkinan misi multinasional yang bertujuan melindungi pelayaran komersial di .

Kapal perusak HMS Dragon, yang sebelumnya beroperasi di Mediterania timur dekat Siprus, kini bersiap untuk bergabung dengan inisiatif maritim yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis, setelah kondisi memungkinkan. Meningkatnya ini berawal dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu balasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu-sekutu AS di Teluk. Akibatnya, penutupan Selat Hormuz menjadi isu yang semakin mendesak.

Gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan mulai berlaku pada 8 April, namun pembicaraan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan yang permanen. Gencatan senjata ini kemudian diperpanjang oleh Presiden AS, Donald Trump, tanpa batas waktu yang jelas, dengan harapan membuka jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik yang berlangsung. Namun, sejak 13 April, AS mulai melakukan blokade angkatan laut terhadap lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz, yang semakin memperburuk situasi.

Pada 5 Mei, Trump mengumumkan bahwa militer AS untuk sementara menghentikan ‘Project Freedom’, yang dirancang untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, dan menegaskan bahwa blokade Amerika akan tetap diterapkan sepenuhnya. Dengan meningkatnya ketegangan ini, potensi terjadinya konfrontasi lebih lanjut di kawasan semakin nyata, yang dapat berdampak pada stabilitas dan keamanan maritim yang penting bagi negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *